Kamis, 06 Maret 2014

Cerpen

Asli! Nih blog random banget. Mulai dari resep, gaya belajar, sampai cerpen. Yah, mau gimana lagi deh. Udah setuju nentuin tema ni blog tuh lifestyle. Ah, gapapa deh. Ersya enjoy-enjoy aja nulisnya tuh. Stacia juga. Dia suka ngusilin Ersya kalo giliran Ersya yang nulis, hihih.

Anyway! Stacia sudah membuat cerpen menarik yang kalian bisa nikmati untuk dibaca. Silahkan dinikmati~
.
.
.
.
.
Sudah beberapa hari ini seluruh tubuh Hana terasa lemas. Wajahnya terlihat pucat dan lesu. Pola makan Hana yang tidak teratur dan tidak sehat semakin berantakan.

“Hana, lo nggak pa-pa? Muka lo pucet banget!” tanya Selia, sahabat baiknya.

Mata Hana terlihat sayu, dia menengok ke teman baiknya itu, “nggak tau, gue ngerasa lemes banget.”

“Mending lo periksa ke dokter deh. Pulang sekolah, yuk! Gue temenin. Okay?”

Hana mengangguk setuju, lebih baik tanyakan ke dokter daripada ia kelimpungan sendiri. Ia sudah pasrah dengan apa yang dia rasakan beberapa hari terakhir. Ia ingin secepatnya sembuh dan beraktivitas seperti biasa lagi. Jalan-jalan, makan junk food yang yummy banget, tidur malam, chattingan sama bule ganteng dan kegiatan lainnya.

Pulang sekolah, dengan diantar oleh Selia, Hana memasuki gedung tua putih namun kokoh berdiri di tengah kota. Bau obat langsung menusuk hidung saat menjejakan kaki ke dalam bangunan itu.

“Uhh! bau obat ga enakkkk!” pekik Hana pelan, namun terdengar oleh Selia.

“Ya nasib lah, Han. Kalo lo nggak mau nyium bau obat jangan sakit melulu makanya,” jawab Selia sambil terkekeh.

Hana cemberut mendengar perkataan sahabatnya itu. Siapa juga yang mau sakit! batin Hana. “Bukan salah gue kan kalo gue sakit?” katanya.

Langkah ringan kaki mereka berdua perlahan masuk ke dalam sebuah ruangan berdominasi cat kuning gading.
 Menyeruakan kesan sejuk dan hommy yang membuat Hana rileks sejenak sebelum sebuah suara mengembalikannya kembali ke dunia nyata.

“Yang mana yang namanya Hana?” tanya dokter dalam ruangan itu. Sudah cukup berumur, Hana memperkirakan usianya sekitar 40 tahun-an.

“Saya, dok,” cicit Hana. Suasana ruangan ini berubah 180 derajat, pikir Hana, setelah melihat dokter yang akan memeriksanya.

“Silahkan duduk,” kata dokter itu

Hana dan Selia langsung duduk tanpa banyak berkomentar. Selia yang tadi bersemangat pun sekarang hanya diam saja menonton Hana diceramahi oleh dokter di depan mereka.

“Kasus kesehatan anak muda sepertimu sudah banyak saya temui selama saya menjadi dokter. Kamu tau kenapa perawat di depan menyuruhmu masuk ke dalam ruangan ini bukan ruangan dokter yang lain?” dokter itu berhenti sejenak dan melanjutkan perkataannya tanpa menunggu jawaban Hana atau Selia.

“Kamu mempunyai kesehatan yang buruk. Makan junk food, tidur malam, mata berada lama di depan komputer dan alat-alat gadget lainnya, mandi malam, tidak suka makan sayur. Banyak remaja seusiamu yang sangat tidak memikirkan kesehatan, mereka mengacuhkannya.”

Hana hanya diam, meski begitu, ia mengakui kebiasaan yang disebutkan dokter di hadapannya ini memang merupakan kebiasaannya selama ini. Selama ia masih sehat. Selama ia belum memikirkan pentingnya kesehatannya yang sangat berharga bagi hidupnya.

Baginya, kehidupan di era modern seperti sekarang merupakan kehidupan yang serba instan dan cepat. Langsung dan menyenangkan. Namun hal itu tidaklah baik untuk kesehatannya sebagai generasi penerus bangsa.

“Saya akan memberimu vitamin yang cukup banyak, namun ingat tetap perlu diimbangi dengan pola hidup yang sehat. Makanlah banyak sayur dan buah, kurangi junk food dan makanan instan, istirahat yang cukup, jangan mandi malam-malam karena mandi malam bisa menyebabkan tulangmu rentan, kurangi waktu untuk di depan gadget. Saya juga buatkan pola makan sehat yang harus kamu terapkan seminggu ini,” jelas dokter itu panjang lebar.

“Iya, dok, saya mengerti. Saya akan mengubah pola hidup tidak sehat saya menjadi sehat,” jawab Hana mantap.

Sedangkan di sampingnya, Selia juga menyadari kalau selama ini ia berpola hidup tidak sehat. Ia tidak mau menunggu seperti Hana sekarang. Ia juga akan berubah menjadi yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar